Official Website|Synthesis Development

. Menu

Apartemen Untuk Siapa ?

Beberapa bulan yang lalu, saya bertemu dengan pembeli sebuah apartemen di bilangan jalan protokol. Dari raut mukanya, meskipun sudah terlihat tua namun dia masih terlihat segar di usianya yang telah menginjak 70 tahun. Usut punya usut ternyata dia adalah seorang pengusaha yang juga masih menjalankan perusahaannya meskipun tidak terlalu aktif lagi. Dia datang bersama dengan istrinya dalam sebuah peluncuran apartemen, harga apartemen yang ditawarkan pun di atas Rp 3 miliaran. Dia duduk layaknya calon pembeli yang menunggu antrian nomer pemesanan. Belum lama berbincang, saya sudah mengetahui mengapa mereka ingin sekali membeli apartemen. Apakah gaya hidup kaum senior perkotaan ini sudah mulai berubah? Apakah karena gengsi?

“Bapak rencananya untuk tinggal?” tanya saya ingin memastikan.
“Iya istri saya maunya tinggal disini,” jawabnya sambil tersenyum melihat istrinya.
“Anak-anak sudah di luar semua yah Pak,” timpal saya.
“Kok tahu?” kata si Bapak sedikit terkejut. Saya pun hanya tersenyum.

Fenomena seperti ini sudah mulai banyak terjadi dalam penjualan sebuah apartemen. Para orang tua yang telah terbiasa tinggal di perkotaan dan bahkan telah mempunyai rumah yang besar pun mulai melirik untuk tinggal di apartemen. Bahkan ada yang menjual rumahnya untuk pindah ke apartemen. Bukan karena mereka butuh uang, namun lebih dikarenakan tinggal di apartemen lebih simple.

Di rumahnya yang besar mereka mempunyai halaman yang luas, tanaman yang banyak, ruang kamar yang banyak. Setelah para anaknya menikah atau sekolah di luar negeri, rumahnya menjadi kosong. Usia pun semakin tua sehingga mereka kerepotan mengurus rumahnya yang besar. Kalaupun mereka ingin jalan-jalan ke luar, agak kurang nyaman bila rumah ditinggal tanpa penghuni. Meskipun mereka mampu untuk mencari pembantu lagi, namun banyak juga yang tidak memilih hal tersebut.

Nah, ternyata dengan tinggal di apartemen, mereka mengharapkan dapat lebih tenang dan tidak perlu repot mengurus rumahnya yang besar. Kalaupun ingin bersantai, mereka hanya perlu ke taman di lingkungan apartemennya. Karena ternyata di sekitar rumahnya yang dulu pun sangat sedikit terdapat taman yang tenang dan aman. Mereka pun bisa menghabiskan makan dan berbelanja di pusat-pusat komersial yang disediakan oleh apartemen yang ingin dibelinya ini.

Apakah semua seperti ini? Tentunya tidak demikian, namun pasar apartemen seperti ini ternyata cukup banyak di perkotaan, lebih lagi bila mereka masih aktif untuk mengawasi perusahaan atau sekedar memimpin pertemuan-pertemuan. Lokasi apartemen di perkotaan tentunya lebih memadai dibandingkan dengan memilih rumah baru di luar Jakarta.

Ternyata gaya hidup simple ini pun mulai digandrungi para eksekutif muda yang bekerja di perkotaan. Apartemen yang simple tidak mengharuskan ada pembantu, tapi cukup untuk ‘tidur’ dan beraktifitas dan yang penting relatif masih dekat dengan tempat kerja atau bisnisnya. Pastinya akan lebih produktif bila para eksekutif muda ini tinggal di apartemen. Kebutuhan apartemen di tengah kesibukan bisnis di perkotaan khususnya Jakarta ‘memaksa’ kita untuk memilih hunian di apartemen. Bagaimana dengan kaum urban yang belum bisa membeli apartemen? Tentunya pasar sewa di tengah perkotaan seperti Jakarta, sangat besar. Kalaupun belum mampu membeli apartemen, mereka akan menyewanya. Bisa di apartemen atau kos-kosan. Namun untuk kalangan eksekutif yang lebih bermodal umumnya lebih memilih apartemen dibandingkan kos-kosan karena lebih private. Apartemen yang dipilih untuk disewa pun tidak harus yang mewah-mewah sekali. Cukup tipe studio atau 1 kamar tidur dengan harga sewa Rp 35 – 50 juta/tahun. Dengan harga sewa tersebut maka tentunya para eksekutif bergaji di atas Rp 7,5 juta/bulan yang mampu menyewanya. Bagi segmen karyawan banyak juga yang memilih apartemen dengan harga sewa di bawah itu.

Bahkan bagi pasangan muda pun banyak yang mulai beralih ke apartemen. Mereka pun mempunyai waktu yang berkualitas beserta keluarga dan anak-anak mereka, daripada memilih hunian di luar Jakarta dengan waktu tempuh yang cukup menyita waktu. Bagi pasangan seperti ini tipe apartemen 1 atau 2 kamar tidur akan menjadi prioritas pilihan.

Dari kesimpulan semua pembeli atau penyewa apartemen, ada satu kata kunci yang menjadi pertimbangan utama kenapa mereka memilih apartemen. Simple! Tinggal di apartemen lebih simple selain itu juga lebih tenang, lebih nyaman, dan lebih produktif. Karenanya siap tidak siap, kaum perkotaan akan mulai terbiasa dengan gaya hidup tinggal di apartemen.

Salam,

Ali Tranghanda, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW)