Investor mulai melirik pasar Asia Tenggara

 
Posted on: December 20, 2016

Share the news!

Jakarta (Antarasumsel.com) – Konsultan properti internasional Jones Lang LaSalle (JLL) menyatakan semakin tinggi minat investor global untuk melirik pasar properti di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2017.

“Investor melirik Asia Tenggara untuk 2017,” kata Head of Asia Pasific Capital Markets JLL Stuart Crow dalam rilis di Jakarta, Selasa.

Menurut Stuart Crow, ketertarikan di negara-negara ASEAN khususnya di Vietnam, di mana terjadi pertumbuhan investasi real estat hingga sebanyak 12 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Selain itu, ujar dia, perkiraan transparansi pasar yang bakal lebih besar dan tingkat pertumbuhan yang tinggi pada tahun mendatang juga menjadi hal yang menarik bagi investor.

Dia juga menyoroti fenomena bahwa investor dari China, pada kuartal III-2016, melampaui Amerika Serikat sebagai investor sektor real estat lintas negara.

Sebelumnya, pengamat sektor properti Ali Tranghanda memperkirakan sektor properti di Tanah Air yang sempat melesu dalam beberapa tahun terakhir akan mulai mengalami titik balik menuju kebangkitan pada Semester II 2016.

“Diperkirakan akan ada ‘turning point’ (titik balik) pada Semester II 2016. Siklus properti sudah berada di titik paling bawah sehingga kemungkinan naiknya bakal lebih besar,” kata Ali Tranghanda dalam diskusi “Potensi Dana Repatriasi Amnesti Pajak di Ranah Properti” di Synthesis Square, Jakarta, Kamis (22/9).

Menurut Ali Tranghanda, saat ini yang diperlukan adalah meningkatkan upaya optimisme sektor properti sehingga jangan sampai ada lagi pesimisme dalam aktivitas perekonomian.

Ia berpendapat bahwa siklus properti itu memang ada dan dari pergerakan yang ada, fase turunnya adalah pada periode 2014 hingga 2015.

Ali yang juga merupakan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch itu juga mengingatkan bahwa mulai Kuartal II 2016 juga ada beragam stimulus yang diberikan oleh Pemerintah.

Ali juga mengemukakan kondisi demografi saat ini juga sangat mendukung karena banyak penduduk yang sedang berada dalam usia produktif serta sekitar 40 persen, termasuk kelas menengah yang memiliki penghasilan sekitar Rp5 juta sampai dengan 20 juta per bulan. “Jadi, potensinya ada di sana,” katanya.

Share the news!


Tags:

Related Posts