Memeluk Emosi untuk Melepaskannya

 
Posted on: March 23, 2019

Share the news!

Di tengah hiruk pikuk serta ritme hidup yang kian cepat kini, maupun di antara beban kerja yang semakin menuntut hingga problema asmara yang pelik, sering kali bikin emosi sontak melonjak. Untuk membantu mengatasi itu, Pendopo Arjuna Synthesis Residence Kemang kedatangan Gobind Vashdev, seorang praktisi self healing yang menyebut dirinya heartworker.

Selama dua hari, Selasa dan Rabu (19-20/03), area proyek apartemen karya Synthesis Development ini dikunjungi oleh lebih dari 130 peserta keseluruhan yang ingin memperoleh pelajaran tentang melepaskan emosi.

“Sesungguhnya emosi adalah bentuk komunikasi yang dikirim oleh pikiran bawah sadar kita sebagai sinyal ada sesuatu yang terjadi,” tutur Gobind seraya membuka membuka kelas Emotional Release ini. Jadi, seperti diungkapkannya, emosi itu bukan sesuatu yang buruk. Mirip seperti panel di mobil, yang jika terjadi sesuatu semisal bensin akan habis, penunjuknya menyala sebagai cara memberi tahu.

Karena itu, emosi yang muncul perlu kita rawat. “Sama seperti jantung atau paru-paru kita,” lanjutnya. “Ketika sakit, kita tidak membuangnya, kan? Tapi kita rawat. Sama ketika perasaan kita terluka dan memunculkan emosi, mengapa kita ‘membuangnya’, memikirkan yang lain? Kita perlu terhubung dan merawatnya.”

Menurut Gobind, hal pertama yang harus kita lakukan ketika merasakan emosi adalah berhenti melihat keluar, apa atau siapa, yang bikin kita emosi. “Stop menyalahkan siapa pun,” cegahnya. “Tapi lihat ke dalam diri kita. Bereskan dulu hati kita.”

Ia kemudian memperkuat pernyataannya dengan memberi analogi yang lain lewat sebuah pertanyaan, “Ketika rumah kita dibakar oleh seseorang kemudian ia lari, apakah yang akan Anda lakukan? Mengejar orangnya, baru kemudian mematikan apinya, atau mematikan apinya dulu dan kemudian mengejar orangnya?” Ya, mematikan apinya dulu.

“Begitu juga dengan hati kita yang dibakar. Jangan lebih dulu mengejar orang yang membakar sehingga membiarkan hati kita hangus.”

Gobind mengistilahkan membereskan hati dan emosi dengan ‘memeluknya’.

Salah satu tekniknya adalah dengan duduk bersama kebencian dan kemarahan. “Kemudian tarik napas sambil mengatakan, ‘saya sedang merasakan kemarahan saya.’ Ketika mengembuskan napas, katakan, ‘saya sedang merawat rasa marah ini.’,” ia menjelaskan sambil sedikit memberi contoh.

Begitu pula dengan rasa benci. “Rasa benci bukan musuh, amarah bukan lawan.”

Ia mengakui, memang tidak enak. Tapi ketika lama-lama merawat emosi, kita tidak akan memisahkan benci dan marah sebagai sisi negatif. “Anda akan melihatnya sebagai bagian dari diri Anda.”

Lantas pertanyaannya sekarang, jika ada orang yang semisal menipu kita dan sebagainya, akankah dibiarkan saja? “Tidak,” jawab Gobind. “Anda boleh melapor ke polisi, menuntut ke pengadilan, silakan. Tapi satu hal, bencinya dan hatinya dibereskan dulu, dinetralkann dulu.”

Dengan kata lain, tindakan kita bukan atas dasar kemarahan atau emosi.

Share the news!


Tags:

Related Posts