Seperti Apa Hunian yang Cocok Untuk Millennials?

 
Posted on: April 12, 2017

Share the news!

Lagi-lagi generasi millennials menunjukkan bahwa untuk hunian pun mereka berbeda. Kalau dulu generasi sebelumnya cukup seragam, tinggal bersama orang tua lalu memiliki rumah sendiri saat berkeluarga – kini tidak ada satu pattern khusus buat millennials.

Ada millennials yang tetap nyaman tinggal dengan orang tua, ada yang sudah investasi properti rumah atau apartemen sejak usia muda, dan ada yang memilih sewa rumah atau apartemen saja.

Hal itu menurut saya sah-sah saja, karena pada dasarnya karakteristik millennials berbeda-beda, jadi saya tidak mau samaratakan pilihan para generasi millennials ini. Tapi mari kita bedah tiga karakteristik millennials dalam memilih hunian!

  1. Millennials yang tinggal dengan orang tua

Di Indonesia budaya anak muda tinggal di rumah orang tua sebelum berumah tangga mungkin bukan sesuatu yang aneh dari generasi ke generasi kebiasaan tersebut sudah dilakukan. Namun kini kebiasaan tersebut semakin kuat lantaran generasi millennials memang sangat dekat dengan orang tua mereka dan orang tua kini lebih fleksibel menghadapi anak dan mertua mereka. Apalagi di luar negri pun yang dulu adalah tabu buat mereka yang sudah dewasa masih tinggal dengan orangtua pun mulai bergeser mengikuti budaya timur lantaran desakan ekonomi. Ada banyak keuntungan yang didapat dari millenials golongan ini, karena mereka sebenarnya punya potensi besar untuk investasikan sebagian dananya untuk properti. Karena sebagian biaya hidup yang masih “ikut” orang tua, mereka bisa memanfaatkan biaya tersebut untuk cicilan rumah.

  1. Millennials yang memiliki tempat tinggal sendiri

Millennials yang sudah berkeluarga dan ingin punya rumah sendiri terpaksa membeli rumah di pinggiran Jakarta, seperti Depok, Tangerang dan Bekasi. Banyak juga yang tidak tahan dengan kemacetan pada saat berangkat dan pulang kantor kemudian menjual rumah tersebut sebagai modal untuk cicil apartemen yang letaknya dekat dengan tempat kerja dan tidak jauh dari sekolah anak. Sayangnya belum banyak properti yang dirancang khusus untuk segmen millennials ini, sehingga banyak yang kemudian menjadi karakter yang berikut ini.

  1. Millennials yang lebih senang menyewa ketimbang membeli

Golongan ini sering di cap millennials bebas karena tidak memikirkan investasi, menyewa apartemen di tengah kota yang harganya mulai Rp 5 juta per bulan atau menyewa kos-kosan keren dari mulai Rp 2 juta. Lokasi jadi pilihan utama mereka karena dekat dengan tempat mereka bekerja. Di Australia, 5 dari 10 millennials memilih sharing apartemen daripada membeli.

Jadi hunian seperti apa yang paling baik untuk millennials?

Ini generasi langgas, generasi bebas, saya tidak bisa bilang kategori 1, 2, 3 yang paling bagus – jadi kembali lagi ke si millennials ini sendiri. Yang kategori satu katakan dia punya investasi tapi bukan berarti kategori tiga tidak punya investasi. Mungkin karena mereka sering bergaul dan memiliki jejaring yang luas sehingga mempermudah karirnya berkembang, 5 tahun kedepan ia malah bisa membeli properti yang di daerah yang cukup strategis. Hanya saja betul, disaat kalian mulai lebih awal, maka cicilan jauh lebih murah.

Ini adalah potret millennials. Saya tidak bisa bilang mana yang terbaik. Mana yang lebih bagus ya waktu yang menentukan. Sekarang tinggal menunggu pengembang properti melakukan terobosan produk secara harga dan fungsi. Saya tidak percaya bahwa generasi langgas tidak suka investasi properti, kemungkinan besar dunia properti yang belum mengerti mereka.  Seperti yang saya amati, sejauh ini belum ada propoerti yang fungsinya sangat millennials padahal jumlah millennials itu mencapai 84 juta.

Yoris Sebastian

The author of Creative Junkies, Founder & Creative Thinker of OMG Consulting, Music Entrepreneur & Public Speaker.

 

Share the news!


Tags:

Related Posts